Rabu, 05 September 2012

Kontroversi Film Tanda Tanya


                                      
Film “?” (baca: tanda tanya) adalah karya dari seorang sutradara muda yang berasal dari Yogyakarta yang bernama Hanung Bramantyo. Sebelum membuat film ini Hanung telah membuat beberapa film yang bernuansa religi diantaranya, PBS (Perempuan Berkalung Sorban), 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta, Ayat-Ayat Cinta, dan Sang Pencerah.
Banyak pemuda-pemudi yang tertarik dengan film-film buatan Hanung. Begitu filmnya muncul di layar lebar, mereka berbondong-bondong untuk menonton film tersebut. Tidak mengherankan jika film-film tersebut mendapatkan perhatian dari orang-orang. Bagi orang-orang awam film tersebut menggambarkan pesan ideal yang ada pada ajaran agama islam, dan juga film tersebut mengajak kepada masyarakat agar masyarakat bisa menjalankan kehidupan sesuai dengan apa yang ditampilkan oleh film tersebut.
Yang mengherankan, ternyata tidak semua orang simpatik dengan film-film buatan Hanung, ada beberapa kalangan dari kelompok masyarakat dan individu yang apatis, menghujat, bahkan ada beberapa yang melebeli film buatan Hanung sebagai film yang bernuansa kekafiran dan pemurtadan. Tokoh-tokoh dari MUI, Muhammadiyah, NU, Sastrawan, dan Mahasiswa memprotes peredaran film tersebut ke layar kaca pemirsa. Hanung juga sempat beberapa kali mendapat teguran, cacian, dan makian dari masyarakat tetapi ia tetap teguh pada pendiriannya, bahwa apa yang disampaikan oleh masyarakat itu hanyalah angin lalu yang tidak perlu untuk ditanggapi, seperti pepatah yang mengatakan: “Anjing menggonggong, khafilah berlalu”. Baginya pula, komentar apa pun yang terlontar oleh masyarakat adalah usaha dari beberapa kalangan yang tidak suka dengannya agar bisa melemahkan semangatnya dalam menekuni bidang perfilman, apalagi filmnya saat ini laris-manis di tonton oleh masyarakat muslim di Indonesia.
Film “?” merupakan film yang peling kental dengan cacian dan makian dari masyarakat. Film ini dibintangi oleh Reza Rahadian (Sholeh), Revalina. S Temat (Menuk), Agus Kuncuro (Surya), Endita (Rika), Rio Dewantoro (Ping Hen), David Khalik (Ustadz Wahyu), dan Hengky Sulaiman (Ayah dari Ping Hen).
   Film “?” menceritakan tokoh Sholeh yang sangat sulit mencari pekerjaan di kota Semarang, Menuk (istri Sholeh) yang merasa nyaman bekerja di Restoran Cina yang menjual beberapa makanan haram yang diharamkan oleh agama islam, Surya yang bosan bekerja sebagai pemeran pembantu di setiap film, Rika yang murtad dari ajaran agama islam, karena dicerai oleh suaminya yang berpoligami, Ustadz Wahyu sebagai seorang dai yang disegani dikampungnya, Ping Hen yang sakit hati dengan Menuk karena ia lebih memilih menikah dengan Sholeh dari pada dengannya karena berbeda agama, dan Tat Kat Sun adalah pemilik restoran Cina yang pada akhirnya meninggal akibat pemukulan yang dilakukan oleh warga muslim pada saat hari raya Idul Fitri.
Adapun bagian/adegan  film ini yang menjadi sasaran kritik yaitu:
1.       Pada awal pembukaan terjadi penusukkan terhadap seorang Pastor, peristiwa tersebut seakan-akan menggiring pemirsa seolah pemeluk agama tertentu yang melakukannya. Secara tidak langsung, film tersebut menjelaskan bahwa pemeluk agama islamlah yang melakukan pembunuhan tersebut karena menagcu pada peristiwa di Ciketing Bekasi pada tahun 2010, dimana seorang Pendeta HKBP ditusuk pemuda islam setelah sebelumnya mereka diprovokasi jemaat HKBP Ciketing.
2.      Rika yang murtad dari agama islam ke agama kristen karena berfikir melakukan suatu pilihan hidup yang terbaik. Baginya meninggalkan agama bukan berarti menghianati Tuhan. Pada awalnya, orang tua dan anak-anaknya keberatan dengan murtadnya Rika, tetapi lama-kelamaan orang tua dan anaknya setuju dengan hal itu.
Dalam ajaran agama islam, masalah muslim, kafir, fasiq, dan murtad adalah persoalan yang penting dan berkaitan dengan surga dan neraka. Maka, dalam mengajarkan hal ini tidak bisa main-main. Seseorang yang murtad bukan permasalahan yang sepele, melainkan sesuatu yang sangat serius karena berhubungan konsekuensi di dunia dan akherat. Hukuman di dunia bagi orang yang murtad adalah dibunuh, sedangkan hukumanya di akherat adalah dimasukan ke dalam neraka.
3.      Muslimah berjilbab, Menuk yang merasa nyaman bekerja di Restoran Cina milik Tat Kat Sun dimana restoran tersebut menyajikan makanan yang diharamkan oleh islam seperti daging babi. Adanya adegan ini, seolah makanan babi tidak menjadi permasalahan penting, padahal dalam Al-Quran sudah dijelaskan bahwa babi itu haram untuk dikonsumsi. Orang islam yang tidak mengkonsumsi, namun membuatkan dan menyajikan babi juga dilarang dalam ajaran agama islam karena seolah mendukung daging babi agar bisa dikonsumsi oleh orang lain.
4.      Seorang tokoh figuran yang beragama islam dan kebetulan tinggal di masjid yang bernama Surya, dibujuk oleh Rika yang   murtad dari agama islam agar bersedia berperan sebagai Yesus di Gereja pada saat perayaan Paskah. Sebelum ia memerankan tokoh Yesus, ia berkonsultasi dengan seorang ustadz yang bernama Wahyu, dan ustadz tersebut mengatakan bahwa boleh menjalankan hal apa pun yang penting hati tetap beriman kepada Allah SWT.
Yang menakjubkan setelah memerankan Yesus pada saat perayaan Paskah, Surya masuk ke masjid dan melalafalkan Surat Al-Ikhlas. Tindakan Surya jelas tidak dibenarkan oleh islam, ia dianggap tidak konsisten terhadap ajaran agama islam, walaupun itu hanya sebatas perayaan biasa, namun itu merupakan suatu kebiasaan yang menyangkut ritual keagamaan. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang meniru suatu kaum, maka ia termasuk di dalamnya”. Maka berdasarkan hujah dari hadist ini tidak diperbolehkan mengikuti tradisi, atau kebudayaan orang-orang non muslim.
Pernyataan dari Ustadz Wahyu juga perlu dipertanyakan, jika orang muslim melakukan hal apapun, asalkan ia tetap beriman kepada Allah, maka hal tersebut diperbolehkan dalam islam. Harusnya apa yang tampak secara fisik itu mencerminkan apa yang ada di dalam hati seseorang. Apabila ada orang yang suka pergi ke gereja, maka dapat dipastikan ia percaya terhadap ajaran agama protestan atau katolik, begitu pula jika ada orang yang pergi ke masjid, maka ia dianggap percaya dengan ajaran agama islam.   
Pernyataan ini merupakan pernyataan yang sesat, dimana pendapat ini adalah pendapat sekte sesat Murjiah yang mana salah satu ajarannya adalah diperbolehkan berbuat apa saja (termasuk kafir secara lisan), namun hatinya tetap beriman kepada Allah. Seharusnya, antara iman dan amal itu saling terkait, tidak terpisah sendiri-sendiri. Apabila seseorang mengaku beriman secara lisan kepada Allah, maka ia harus melakukan syariat-syariat islam, namun apabila ada yang beriman kepada Allah, tapi tidak menjalankan syariat islam, atau ia tidak beriman tetapi ia melaksanakan syariat islam, ia tidak bisa disebut muslim karena antara iman dan amal itu saling terkait.
Tindakan Surya membaca Surat Al-Ikhlas untuk memantapkan hatinya dalam memeluka agama islam setelah memerankan tokoh Yesus pada perayaan Paskah, juga bukan suatu jaminan bahwa ia adalah orang yang teguh dalam mengamalkan ajaran agama islam. Buktinya ia masuk ke gereja untuk melakukan peran Yesus pada saat paskah yang justru mengusung paham trinitas, padahal jelas dalam Surat Al-Ikhals yang dibaca Surya menafikan konsep Trinitas yang dijunjung pada saat Paskah. Bisa disimpulkan bahwa film ini secara tidak langsung mendukung faham trinitas secara terangan-terangan.
5.      Pada saat satu setelah hari Raya Idul Fitri Sholeh dan teman-temannya menyerbu restoran Tat Kat Sun karena tidak memberikan hari libur kepada para karyawannya. Sangat janggal, harusnya di hari yang sangat mulia tersebut, dimana antara satu muslim dengan muslim yang lain saling bermaafan dan bersilaturahmi, dalam film tersebut malah umat islam melakukan tindakan anarkis yang pada akhirnya menyebabkan pemilik restoran tersebut meninggal.
6.      Banser (Barisan Ansor Serbaguna) NU pada film tersebut diidentikan dengan tempat penampungan bagi orang-orang yang menganggur, dalam film tersebut juga diceritakan bahwa Sholeh menggabungkan diri dengan Banser karena ingin mendapatkan upah. Padahal Banser itu adalah persatuan pemuda yang berjuang demi kepentingan agama, negara, dan masyarakat, sedangkan masalah ada atau tidaknya upah itu urusan belakang.
7.      Pada akhir cerita, Sholeh melakukan tindakan bunuh diri karena ingin mendapatkan rasa simpatik dari isterinya, yang mana sebelumnya ia bertengkar dengan isterinya karena ia melakukan tindakan kekerasan kepada Tat Kat Sun. Sebelum Sholeh bunuh diri ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Hal ini sangat bertentangan dengan islam karena islam sangat mencela bunuh diri, siapa yang melakukan bunuh diri maka ia akan dimasukan ke dalam neraka.
8.      Yang terakhir, film ini sarat dengan nuansa pluralisme agama. Pada akhir film ada beberapa bait yang menujukkan bahwa semua agama itu pada intinya menuju pada satu Tuhan dan semuanya menuju pada kebaikan. Perlu ditegaskan disini bahwa, islam adalah agama yang diterima di sisi Allah. Tiada agama yang Haq selain islam. Siapa yang memilih agama maka ia dijanjikan masuk surga, siapa yang memilih kafir maka baginya adalah neraka.
Adapun bait yang dilontarkan adalah sebagai berikut:
            “Manusia tidak hidup sendirian di dunia ini.
              Dia memilih jalan setapak masing-masing.
              Semua jalan setapak itu berbeda-beda,
              Namun menuju satu jalan yang sama
              Dan satu tujuan yang sama yaitu Tuhan.”
Adapun beberapa statment miring dari tokoh-tokoh islam diantaranya:
1.      K.H Kholil Ridwan ketua MUI Pusat Bidang Budaya mengatakan: “Film ‘Tanda Tanya’ Hanung Sebarkan Faham Haram dan Sesat”.
Usai menonton film itu di Jakarta, K.H Kholil berpendapat:“Film ini jelas menyebarkan ini jelas menyebarkan faham pluralisme agama yang telah difatwakan sebagai faham yang salah dan haram bagi umat islam untuk memeluknya.”
Indakasi faham pluralisme sangat tampak, menurutnya, terlihat dalam narasi bagian awal, “Semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama: mencari satu hal yang sama dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan.”
K.H Kholil juga menambahkan bahwa sudut pandang yang dipakai Hanung adalah sudut pandang orang yang netral akan agama sehingga sangat jelas ia mendukung agama manapun asalkan tidak ada unsur kekerasan, “Cara pandang seperti ini menunjukan bahwa pembuat film ini berdiri pada perspektif bukan sebagai orang muslim, tetapi sebagai seorang yang netral agama, yang memandang semua agama adalah menyembah Tuhan yang sama.”
            Selain itu, papar K.H Kholil, cara pandang pembuat film ini juga bertentangan dengan cara pandang Nabi Muhammad SAW, “Saat Rasulullah SAW diutus (menyampaikan wahyu) sudah ada orang-orang Yahudi, Nasrani, Majusi, dan kaum Musyrik Arab. Tapi Nabi menyeru mereka semua agar kembali pada prisnsip yang sama (Kalimatin Sawa), yaitu prinsip Tauhid hanya menyembah Allah semata.” Ia mengutip Surat Ali Imran: 64, Maryam: 88-91, Al-Maidah: 73, dan Al-Shaff: 6).
            K.H Kholil juga menyayangkan para pembuat film tanda tanya yang tidak mau menggunakan agama sebagai pijakan dasar dalam pembuatan film, “Sangat aneh jika seseorang mengaku beragama islam, tetapi melihat agama-agama lain selain islam bukan, bukan dari kacamata Al-Quran, tetapi dari kacamata netral agama.” Kritiknya.
            Dalama pandangan aqidah, lanjut K.H Kholil, film ini sama sekali tidak bisa dibenarkan.
            “Film ini mencampur adukkan dan mengacaukan konsep toleransi dan kerukunan dengan konsep ‘Pluralisme’ dalam hal teologis.” Kecamnya. “Toleransi tetap bisa terjalin tanpa harus mengorbankan keyakinan agama masing-masing, karena kerukunan umat beragama dapat terwujud bila masing-masing pemeluk agama tetap pada klaimnya masing-masing.” Imbuhnya.
            Setelah mengamati dan mengkritisi dengan cermat, K.H Kholil menyarankan agar para pembuat film ini belajar agama islam dengan sungguh-sungguh, dengan belajar islam secara sungguh-sungguh maka akan tahu mana yang haq dan mana yang bathil.
            “Saya menyarankan agar Saudara Hanung sebaiknya mengaji yang baik, dan dengan sukarela menyatakan bahwa filmnya memeng keliru dan mengelirukan. Imbaunya. “Lebih baik lagi, film ini ditarik dari peredaran” pungkasnya.

2.      D.R Adian Husaini: “Film Hanung Kampanye Pluralisme yang Vulgar”
Menurutnya, film ini jelas-jelas sebuah kampanye pluralisme yang vulgar.
“Jelas kampanye pluralisme, malah pluralisme yang vulgar.” Ujarnya.
Peneliti pemikiran islam ini menambahkan bahwa orang kafir dan murtad itu masalah serius dan tidak boleh ditanggapi secara main-main, serta bukan permasalahan yang sepele.
“Setelah saya melihat traliler film ini yang lebih dahulu disebarkan di You Tube, hingga menonton langsung  filmnya malam ini, jelas sekali, film ini sangat merusak, berelebihan, dan melampaui batas”
Menurut penulis buku ‘Wajah Peradaban Barat’ ini, film tanda tanya niatan awalnya ingin menunjukkan toleransi agama yang ideal bagi masyarakat, tetapi pada akhirnya malah memberi cap buruk pada agama islam. Misalnya kasus penusukkan Pastor, mengebom gereja, pengeroyokan restoran Cina. Semuanya dijadikan Sterotype bagi agama islam. Kasus pemurtadan juga dianggap sebagai hal yang lumrah, dan semua agama dianggap sama-sama menuju pada Tuhan.
“Dalam film ini, dibuat seolah orang keluar dari agama islam itu sesuatu yang biasa saja.”  
Menurut Adian, semua yang digambarkan Hanung dalam film tersebut jelas faham Pluralisme yang sangat ditentang dalam islam. Sebab kerukunan itu, kata Adian, bisa diwujudkan tanpa mengorbankan keyakinan masing-masing.
“Sangat disayangkan film seperti ini disebarluaskan. Ini bukan menumbuhkan kerukunan, malah merusak kerukunan itu sendiri”
Atas nama Pluralisme, semuanya dirusak dengan cara berlebihan. Padahal tidak mungkin semua agama dihilangkan kalim kebenaran. Padahal selama ini tidak ada masalah. Jadi film ini sangat berbahaya.
Adian juga mempertanyakan, “Apa sih yang mau dicapai dengan tontonan seperti ini?”
Padahal jelas sekali dalam islam, ada tauhid, ada syirik, ada iman, dan ada kufur. Batas-batas itu harus dipegang. Kalau produser, penulis, pemain dan sutradara mengaku dirinya muslim, seharusnya mereka menjaga batas-batas keimanannya.
Kapan ia ia memegang keyakinannya, dan kapan pula ia harus menjaga kerukunan dengan orang lain.
“Jadi film ini salah kaprah dan berlebihan yang justru merugikan kerukunan umat beragama sendiri.”
Lebih lanjut, ia berharap Hanung memang sedang tidak sadar dengan kekeliruannya.
“Saya berharap ia (Hanung) tidak sadar dan keliru. Dan bertaubat, mohon ampun kepada Allah itu hal yang baik dari pada mempertahankan sesuatu yang salah.”
Tulisan diatas dibuat bukan berdasarkan rasa iri, benci, dan dengki, melainkan berangkat dari kekhawatiran penulis melihat banyaknya film-film yang bernuansa religi, namun pada dasarnya terdapat beberapa kekeliruan yang sangat berbahaya apabila dibiarkan menyebar ke layar kaca tanpa adanya proses penyadaran seseorang.
Manusia adalah tempatnya salah dan lupa, maka ketika ada masukkan atau kritikkan yang mendorong diri untuk maju, hendaknya diterima dengan bijak dan hati yang lapang. Bukanlah suatu keburukan jika seseorang dikritik, kemudian ia mengevalusi kekurangan yang ada serta berusaha memperbaiki diri dengan kritikan tersebut.
Sebagai penutup, di era globalisasi ini, umat islam harus berhati-hati terhadap berbagai macam hiburan yang menyenangkan tetapi jika diperhatikan dengan seksama, justru penyesatanlah yang didapat. Kesesatan di bungkus dengan humor, perjuangan keras, pengorbanan, cinta , dll. Padahal pada kesemuanya itu terdapat sesuatu yang sangat serius dan tidak bisa ditanggapi dengan gurauan atau candaan. Maka, sebagai umat isam yang percaya dengan rukun iman, wajib berpegang teguh pada Al-Quran dan Al-Sunnah. Jika umat islam berpegang teguh pada dua hal tersebut, niscaya mereka tidak akan tersesat walaupun zaman senantiasa berubah dari waktu ke waktu.






    

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar