Senin, 18 Mei 2026

Contoh Naskah Pidato: Meneruskan Perjuangan Nyai Siti Walidah di Zaman Modern

 

                                    Ilustrasi: gambar Nyai Siti Walidah, Sumber gambar: swararahima.com

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أَمَّا بَعْدُ

Dewan juri yang kami hormati…

            Apa yang terlintas dalam benak kita ketika mendengar nama Nyai Siti Walidah? Kebanyakan dari kita akan menjawab bahwa beliau adalah pendiri organisasi Aisyiah. Fakta tersebut memang benar adanya, tetapi kita harus ingat bahwa perjuangan beliau tidak hanya itu, begitu kompleksnya sehingga kita tidak akan mampu mengurai satu-persatu dalam waktu singkat ini.

            Walau begitu, setidaknya Nyai Siti Walidah adalah penggerak organisasi perempuan berskala modern, menjadi inspirasi wanita untuk bisa berpikir melintasi zaman dan bergerak maju ke depan. Melawan segala bentuk kebudayaan yang mendiskreditkan perempuan di zamannya, dimana saat itu wanita tidak layak untuk berpendidikan tinggi. Perempuan cukup di rumah melayani suami, sehingga ia identik dengan sumur, kasur, dan dapur. Selama sehari penuh, 24 jam hanya mengurus suami, tidak punya kebebasan di ruang publik, dan segala tindak-tanduk harus tunduk pada budaya patriarki.

            Segala perjuangan dari Nyai Siti Walidah terus dilakukan hingga berdirilah organisasi perempuan Aisyiah. Berdiriya organisasi tersebut janganlah dilihat dari sudut pandang masa kini semata, tetapi harus dilihat pada konteks masa masa lalu, dimana perempuan keluar rumah untuk berkumpul dan melaksanakan kegiatan sosial, seolah mengambil lahan pekerjaan bagi kaum Adam.

Layaknya K.H Ahmad Dahlan yang dicibir oleh masyarakat karena mempunyai pemahaman arah kiblat masjid berbeda dengan orang-orang saat itu. Nyai Siti Walidah terus mendidik perempuan melalui organisasi Aisyiah dan tak menghiraukan cibiran dari masyarakat, karena beliau yakin bahwa cibiran tidak akan pernah berhasil meruntuhkan tekad yang kokoh. Pada akhirnya, kini perempuan tidak lagi identik dengan ranah domestik, tetapi bisa bekarja pada tataran publik. Wanita bisa menjadi guru, dokter, perawat, psikiater, dll.

Dewan juri yang kami hormati…

Meski hari ini kita tidak lagi hidup di zaman Siti Nurbaya, tetapi kita harus terus berjuang meneruskan perjuangan dari Nyai Siti Walidah, karena kita adalah pewaris pemikirannya, dan kita juga anak-cucu ideologis dari beliau. Maka, kini tidaklah cukup hanya membicarakannya semata tanpa melakukan aksi-aksi nyata untuk kepentingan agama, nusa, dan bangsa.

Lalu bagaimana caranya agar kita bisa melanjutkan estafet perjuangan Nyai Siti Walidah? Setidaknya ada dua hal:

Pertama, membuka cakrawala dengan luas agar segala bentuk informasi dan ilmu bisa kita saring, lalu serap. Jangan sampai kita phobia terhadap informasi/ilmu modern dan menjadi kolot,  kita harus paham bahwa  modernisasi adalah sebuah keniscayaan/kunci agar perempuan maju dan berdaya dengan tetap memegang Al Quran dan As Sunnah. Hal ini sesuai dengan inti sabda Nabi SAW:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Artinya:

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim" (HR. Ibnu Majah)

Kedua, melakukan kegiatan sosial-filantropi berdasarkan surat Al Maun. Surat pendek yang telah kita hafal dan mengerti artinya tidaklah cukup hanya dihafal lalu diperdebatkan, mari kita bersama-sama mengulurkan tangan, saling menolong, serta bergerak mengentaskan kemisikinan, kebodohan, dan keterbelakangan melalui tetesan keringat dan darah perempuan. Allah SWT berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Artinya:

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan." (Q.S Al Maidah: 2)

Setidaknya dua hal itu bisa dijadikan pegangan, khususnya kaum perempuan dalam meneruskan estafet perjuangan Nyai Siti Walidah. Mudahan-mudahan yang sedikit ini bermanfaat bagi kita semua. Mohon maaf atas segala khilaf.

Billahi Taufiq Wal Hidayah

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda