Minggu, 15 Juli 2018

Kehidupan Kedua


Image result for kehidupan kedua
            Masa lalu, sesuatu yang telah terjadi dan tak dapat kembali, namun sering kali disesali bagi setiap insan. Masa lalu, sesuatu yang seringkali diratapi oleh kebanyakan manusia entah apa sebabnya. Manusia hanya bisa berharap, bahwa masa lalu akan kembali, seketika dia berjanji akan memperbaiki diri dan memanfaatkan hal itu dengan sebaik-baiknya. Nyatanya masa lalu tak akan kembali, manusia hanya bisa larut dalam bayang-bayang semu, manusia hanya bisa berharap dalam angan-angan yang kosong.
            Ketahuilah, aku merupakan satu dintara ratusan juta manusia yang berharap bahwa masa lalu akan kembali. Hadir dengan beragam kesempatan, sehingga aku bisa mengambil salah satu kesempatan itu dan kelak tak akan ada lagi penyesalan ketika dia pergi. Kisahku berawal ketika usiaku mulai beranjak dewasa.
            11 Tahun Lalu Setelah Konser
            Mataku berkunang-kunang, badan terasa melayang, dan segala sumpah serapah keluar dari mulut kotorku. Beberapa botol minuman keras telah kuminum
            “Panitianya tolol! bisa-bisanya band kita dibayar cuma lima juta, padahal kita nampilin tujuh lagu.” Aldi sepintas seperti marah, nyatanya setelah bersumpah serapah, dia terbahak-bahak layaknya manusia paling bahagia sedunia.
            “Tujuh lagu? Harusnya kita dibayar dua puluh juta. Hahaha.”
            “Percuma juga kalo dibayar dua puluh juta tapi ternyata itu uang monopoli. Haha.”
            Aku menimpali candaan teman-temanku tanpa kesadaran utuh. Pikiranku kini benar-benar melayang. Sesengguhnya kepalaku benar-benar pusing, namun saat menegak minuman haram itu aku benar-benar merasa bahagia. Bagiku, menegak minuman keras adalah salah satu dosa terindah dalam hidup yang pernah kulakukan. Terima kasih Tuhan, kau ciptakan dosa yang berujung pada kenikmatan. Masih ada dosa lain yang belum kuperbuat. Izinkan aku mencicipi seluruh dosa yang Kau ciptakan.
            Perlahan, aku tak sadarkan diri. Tidur pulas dalam ilusi kebahagiaan, dan berharap esok atau lusa akan kembali mengulang perbuatan yang sama, tentunya disertai dengan dosa indah lainnya.
                                                                        ****
            11 Tahun Lalu Setelah Konser Malam Itu
            Pagi-pagi buta aku mulai tersadar. Aku terbaring diatas ranjang, masih menggunakan pakaian konser lengkap. Aku tak tahu siapa yang membawaku kesini tadi malam, yang jelas pikiranku kacau sekali. Aku masih belum beranjak dari tempat tidur, kepalaku sakit sekali seperti habis dihantam palu. Teman-temanku? Ah biarkan saja, mungkin mereka berada di kamar masing-masing.
            Dalam keadaan terbaring kulihat jam tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB, sebenarnya aku harus bersiap-siap pulang ke rumah lepas konser, namun nyataanya aku belum melakukan persiapan apa pun.
            “Tok, tok.” Suara pintu kamarku diketuk.
            “Masuk.” Jawabku.
            Pintu perlahan terbuka.
            “Makan pagi sudah siap, tinggal nunggu mas Aji dan kawan-kawan. Apa...” Suara panitia terpotong.
            “Nanti dulu mas, aku baru bangun. Ini mau siap-siap dulu, ntar aku bakalan nyusul ke ruang makan.”
            “Oke mas.” Si panitia pamit mohon izin.
            Kuambil hp dan kuhubungi no Aldi.
            “Halo Ji?”
            “Ya halo, kamu dimana?”
            “Aku di kamar, lagi beres-beres baju.”
            “Oke. Kalo udah beres, kita langsung ke ruang makan. Kita makan, habis itu kita ambil honor konser, terus kita pulang ke Jogja.”
            “Siap bos.”
            “Temen-temen yang lain mana?”
            “Di kamar, mereka lagi beres-beres.”
            “Oke. Aku mandi dulu.”
             Kututup hpku dan aku pun langsung ke kamar mandi. Tanpa berlama-lama aku keluar dari kamar mandi. Kubereskan semua barang yang masih berantakan. Kututup tas, namun mataku tertuju pada sebuah botol anggur di dekat lemari. Dalam hatiku berkata:
            “Ternyata masih ada satu botol anggur, lumayan buat ngeflay dari Jakarta sampe Jogja.”
            Kumasukkan botol anggur tersebut ke dalam tas.
            Di ruang makan sudah berkumpul teman-temanku. Semuanya sedang asyik makan. Di atas meja terhidang berbagai macam makanan lezat seperti ayam bakar, sate ayam, dan berbagai macam hidangan lain.
            “Ji, langsung makan sini.”
            Tanpa disuruh dua kali aku mengambil ayam bakar. Segera kumakan, namun ayam yang kumakan rasanya tak cocok dilidahku. Entah mengapa saat itu dengan santai aku mencela makanan tersebut, sekaligus mencela orang yang membuat makanan itu.
            “Busyet ayamnya hambar baget, enggak enak, jadi males makan. Ni siapa sih yang buat? Kalo kaya gini mendingan aku ngerokok aja.”
            Teman-temanku saling menatap dan tidak ada yang berani menegurku. Panitia yang mengurus bagian konsumsi mendekat dan hanya minta maaf kepadaku. Aku pun dengan santai mengolok-olok bahwa panitia kurang becus dan profesional dalam menjamu bandku. Panitia lagi-lagi hanya minta maaf. Ini bukan pertama kalinya aku marah-marah ke panitia, setiap kali konser pasti ada saja hal sepele yang membuatku marah, sebenarnya bukan karena mereka tak becus menjamu, tapi karena sifat tempramentalku yang tak bisa terkontrol. 
            Usai makan aku dan teman-teman masuk ke ruangan utama untuk mengambil honor konser. Tanpa mengucap terima kasih kita semua langsung menuju ke mobil. Aldi yang mengemudi mobil dan aku duduk disebelahnya. Perjalanan panjang dari Jakarta menuju ke Jogja dimulai, teman-teman mulai bercerita hal apa saja yang singgah dalam benak mereka. Aldi cerita semangat sekali, namun dia tidak kehilangan fokus mengemudi. Tetap lihai, cekatan, dan terampil. Agar susana lebih cair, kukeluarkan botol anggur.
            “Guys, anggurku sisa satu nih.”
            Aldi langsung mengambil botol dariku, dan langsung menegak dalam jumlah banyak.
            “Gila! Kamu kan lagi nyetir.”
            “Udah santai aja yang penting happy.”
            Satu persatu temanku menegak anggur yang kubawa. Tak lama kemudian rasa sakit di kepala mulai terasa. Kulihat teman-teman yang berada di kursi belakang sudah mulai tertawa sendiri dan mulai ngawur bicaranya. Aku lihat Aldi masih sadar, namun beberapa kali dia mulia memegang kepalanya.
            “Ji, kepalaku pening banget.”
            “Al, kepalaku juga pening. Kayaknya kita perlu berhenti deh.”
            “Kita ada di jalan tol Ji, enggak bisa berhenti sembaranngan.”
            “Sebaiknya kita cari tempat istirahat. Kita berhenti dan istirahat disana sampe keadaan membaik.” 
            Aldi hanya tertawa sendiri, dia menekan gas sampai diatas 80 km/jam.
            “Al, segera ambil lajur kiri, kurangi kecepatan.
            Mobil melaju kencang namun lama kelamaan terlihat tak seimbang. Aku mulai panik namun Aldi justru tertawa. Dia menyalip setiap kendaraan yang dilewati dengan kecepatan diatas 100 km/jam. Kini aku benar-benar panik, karena di depan ada sebuah truk besar dengan kecepatan sedang, sedangkan cara menyetir Aldi tak lagi stabil, dia salip truk tersebut dari sisi kanan, namun sayangnya dari belakang mobil ada sebuah bus yang akan menyalip mobil kita dari sisi kanan. Aldi dan aku kaget, dengan cepat bus menabrak sisi belakang mobil. Kita pun terpental lalu mengenai pembatas tol. Saat itu, aku mulai mengerti bahwa kehidupan amat berarti, sedangkan maut begitu kejam, tak memandang kapan dan dimana dia akan hadir mencabut nyawa manusia.
            Mobil yang kita naiki dalam keadaan terbalik. Aku masih setengah sadar. Kulihat wajah Aldi penuh dengan darah. Seluruh tubuhku mati rasa, dan keningku pun penuh dengan darah. Sebelum semuanya gelap, hatiku berkata:
            “Tuhan, ampuni aku. Jika kau berkenan, berikanlah kesempatan kepadaku sekali lagi, maka aku akan...”
            Tiba-tiba semua gelap.
            11 Tahun Lalu di Rumah sakit
            Mataku perlahan membuka. Hidungku diberi alat bantu pernafasan. Balutan perban memenuhi kepala, kaki dan tangan. Tidak hanya itu, seluruh tubuhku rasanya sakit seperti ditindihi beban beratus-ratus kilo. Disamping kanan terlihat beberapa orang menangis. Tak jelas siapa mereka karena penglihatanku masih kabur.
            “A...ku... la...gi di... mana?”
            Perempuan di samping kananku menjawab sesenggukan.
            “Ka...mu sedang di rumah sakit nak.”
            “Al...di...Al...di di...mana?”
            “Ka...mu istirahat du...lu... ya nak. Aldi dan yang lain sedang istirahat.” Perempuan itu masih menjawab dengan sesenggukan.
            “Syu...kurlah... ka...lo... me...re...ka baik.”
            Perlahan ingatanku mulai kembali. Masih teringat jelas detik-detik sebelum terjadinya kecelakaan. Tak menyangka bahwa maut hampir saja merenggunt nyawaku. Air mata jatuh ke pipi, dan Aku pun menangis sejadi-jadinya. Orang-orang disekitar hanya bisa menatapku dengan tatapan nanar. Semuanya terdiam membiarkanku menangis.
                                                                        ****
            Kenapa? Kenapa semua harus berakhir seperti ini? Mendengar pernyataan dari orang tuaku benar-benar membuat hati ini pilu. Keempat temanku semuanya meninggal dalam tregedi kecelakaan itu, termasuk sahabat baikku Aldi. Semuanya meninggal dalam keadaan yang mengenaskan. Tubuh mereka hancur dan menurut keterangan dokter, mereka semua meninggal ditempat. Hanya aku sendiri yang masih hidup. Mengapa hanya aku? Bukankah lebih baik jika aku mati sedangkan mereka masih hidup?
            Tuhan, mengapa hidup teman-teman harus berakhir sampai disini? Tak bisakah kau mengulur sedikit waktu, agar aku bisa memberikan sedikit tanda perpisahan kepada mereka? Semuanya telah berakhir, lagi-lagi aku mengutuk langit dan seisinya karena harus berpisah dengan teman-temanku.
Malam ini di angkringan
Kejadian sebelas tahun lalu membuatku berubah. Sebelum kecelakaan terjadi, aku pernah berkata dalam hati:
“Tuhan, ampuni aku. Jika kau berkenan, berikanlah kesempatan kepadaku sekali lagi, maka aku akan...”
Kalimat itu sempat terpotong dan sebenarnya masih ada kelanjutannya, namun kalimat itu belum sempat terucap karena bus telah menabrak mobil yang aku tumpangi. Sebenarnya, kalimat itu berbunyi:
“Tuhan, ampuni aku. Jika kau berkenan, berikanlah kesempatan kepadaku sekali lagi, maka aku akan hidup lebih baik dari sekarang ini.”
            Kecelakaan parah yang membuatku koma tiga hari, serta luka lain di sekujur tubuh membuatku sadar bahwa hidup hanya sekali. Tak dapat diulangi dan tak dapat kembali. Oleh karena itu akan kumanfaatkan hidupku dengan sebaik-baiknya.
            Sudah sebelas tahun lamanya aku tak menyentuh lagi minuman keras. Sudah sebelas tahun lamanya aku tak bermain musik. Bandku sudah lama bubar, dan kini aku sibuk dengan dunia wirausaha kecil-kecilan. Setiap malam aku berjualan makanan di angkringan bersama istriku, walaupun hasil tak besar namun aku merasa bahagia dan tenang. Sebab, hasil besar tak menjamin kebahagiaan seseorang dan hasil kecil tak menjamin kesedihan pada manusia. Semua tergantung pada masing-masing individu. Jika seseorang dapat mensyukuri nikmat, maka Tuhan akan menambah nikmat-Nya, tetapi jika seseorang mengeluh maka Tuhan akan menyempitkan nikmat-nikmat dari-Nya.
            Ketahuilah, kini aku pun menjadi penganut agama yang baik. Setiap hari aku melaksanakan shalat, setiap tahun aku berpuasa selama satu bulan penuh, setiap tahun aku juga berzakat, dan aku sudah mulai menabung untuk bisa pergi haji ke tanah suci. Tak lupa pula setiap hari aku mendoakan teman-teman satu bandku, agar bisa meninggal dengan tenang dan bisa diterima di sisi-Nya.
            Masa lalu memang tak bisa diulang dan hanya bisa dikenang, namun kita masih punya masa depan yang menjanjikan perubahan, tentunya bagi siapa saja yang mau. Mungkin teman-temanku sudah tiada dan tak bisa kembali hidup di dunia ini, namun setidaknya aku masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk bisa mendoakan mereka dari tempat dan waktu yang berbeda. Kini aku tak mengharapkan masa lalu bisa terulang kembali, aku hanya berharap bisa menjadi seseorang yang lebih baik di masa mendatang.
            “Pak.”
            “Iya mas.” Aku tersadar dari lamunanku.
            “Pak, kopinya satu ya diminum disini.”
            “Baik mas. Sebentar ya, saya buatkan dulu.”
            Beginilah kehidupanku setiap malam. Melayani pelanggan dengan hati tenang dan tak akan pernah lagi berhadapan dengan dunia serba hitam. Kuharap, aku bisa terus konsisten menjalankan kebaikan tidak hanya untuk diriku namun juga untuk orang-orang disekitar.
                                                                 TAMAT

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda