Sabtu, 25 Juli 2015

Meningkatkan Ibadah di Bulan Syawal


Indahnya buka puasa akan kita lalui, kehangatan makan sahur sebentar lagi akan berakhir, gema takbir tanda kemenangan umat Islam akan segera dikumandangkan. Lantas, apakah perjuangan menahan nafsu makan, minum, dan syahwat akan berakhir dengan munculnya bulan Syawal? Apakah dzikir yang kita lantunkan, tilawah yang kita jaga sehari satu juz, dan shalat malam yang rutin kita lakukan, hanya akan menjadi kenangan yang tersimpan dalam memory kita?
            Saat bulan Ramadhan telah pergi, dan bulan Syawal hadir bukan berarti hal-hal baik yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan telah usai. Sesuai dengan maknanya, Ramadhan adalah bulan pembakaran. Artinya, seluruh hawa nafsu yang dapat menjerumuskan kita kedalam dosa akan di bakar (dihilangkan) dengan ibadah puasa dan ibadah lain, sedangkan bulan Syawal berarti bulan peningkatan. Apabila sebuah atau beberapa amalan di bulan Ramadhan telah kita lakukan dengan maksimal, marilah senantiasa kita tingkatkan dan istiqamahkan agar bisa terus-menerus dilakukan di bulan Syawal dan di bulan-bulan yang lain.
            Berakhirnya bulan Ramadhan dan hadirnya bulan Syawal ditandai dengan adanya suatu hari raya besar umat Islam yaitu Idul Fitri. Beberapa dari kita menyebutnya dengan lebaran. Secara etimologi (bahasa), Idul Fitri merupakan gabungan dari kata ‘‘Iid’ (berasal dari kata (‘Aada-Ya’uudu) yang artinya kembali dan ‘Fitri’ (masdar dari Iftar dan berasal dari kata Aftaro-Yufthiru) yang  artinya berbuka. Sedangkan secara terminologi (istilah), Idul Fitri ialah hari raya umat Muslim, dimana diperbolehkan kembali berbuka, baik itu makan, minum, maupun perbuatan lain yang halal, namun dilarang pada saat bulan Ramadhan.
            Ada beberapa ulama yang mendefinisikan Idul Fitri dengan interpretasi yang berbeda. Adapun secara etimologi, ‘‘Iid’ berarti kembali, sedangkan ‘Fitri’ (berasal dari kata Fathoro-Yafthiru) suci dan bersih dari kejelekan. Maka, dari pengertian diatas, secara terminologi Idul Fitri ialah hari raya umat Muslim, dimana semua dosa, kejelekan, hal-hal buruk disucikan, sehingga manusia berada dalam keadaan fitrah.    
            Sebagian dari kita mungkin masih bertanya atau mungkin bingung, apa yang mestinya dilakukan setelah perginya bulan Ramadhan? Yang harus dilakukan yaitu:
            Pertama, sesuai dengan pengertian diatas, kita harus kembali pada fitrah. Allah berfirman:
            Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ar Rum: 30).
            Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri/fitrah beragama, yaitu agama Tauhid. Asal kejadian manusia telah membawa potensi agama yang lurus, yaitu Tauhid (Islam). Mengapa Tauhid adalah fitrah manusia? Karena pokok kepercayaan di dalamnya sesuai atau cocok dengan fitrah akal manusia. Peraturan dan hukum-hukumnya juga juga dapat dimengerti oleh akal manusia dan untuk kemaslahatannya, sehingga tidak ada satu pun doktrin dalam peraturan hukum Islam yang menyalahi fitrah manusia (Salim, 2013:107).   
            Tauhid sebagai fitrah manusia berarti bahwa naluriah manusia itu bertuhan. Sebab,  manusia adalah makhluk yang selalu cinta kepada kesucian dan selalu cenderung kepada kebenaran. Dhamir (hati nuraninya) selalu mendendangkan dan merindukan kebenaran. Kebenaran tidak akan  didapat melainkan dengan Allah SWT sebagai kebenaran mutlak dan terakhir. Al Quran menerangkan bahwa Allah SWT telah menciptakan manusia dengan kodrat yang hanif, sebagaimana juga agama Islam diciptakan Tuhan atas kodrat yang hanif, artinya memihak pada kebenaran. Sebab ,itulah Islam cocok dengan fitrah manusia (Razak, 1982:78-79).
            Berdasarkan penjelasan diatas, hendaknya kita memantapkan keyakinan pada agama Islam sebagai agama fitrah bagi manusia. Karena dengan memantapkan keyakinan, kita bisa terus konsisten menjalankan ajaran-ajarannya dengan maksimal.
            Kedua, yang harus kita lakukan dengan datangnya bulan Syawal ialah menjadikan nilai-nilai etika dan moral yang terdapat pada Al Quran dan As Sunnah sebagai jalan hidup (Way of Live).  Masyarakat Islam yang ideal adalah masyarakat yang didalamnya terdapat hukum Tuhan, dimana Tuhan menjadi hakim dalam semua masalah kehidupan, baik kehidupan individu maupun masyarakat. Ciri-ciri masyarakat Islami sebagaimana yang dimaksud dalam Al Quran dan As Sunnah yaitu: 1.) Terwujudnya keadilan, 2.) Penyedian jaminan dan kesejahteraan sosial, 3.) Kesadaran yang tinggi akan tanggung jawab sosial, 4.) Komitmen terhadap nilai, 5.) Bersikap moderat, 6.) Membangun rasa persaudaraan, 7.) Menganjurkan kebaikan dan mencegah keburukan, dan 8.) Menghormati hak asasi manusia (Amir, 2011: 62-63).
            Ketiga, membangun perdamaian ditengah masyarakat yang majemuk dan plural. Saat datangnya bulan Ramadhan, puasa merupakan sekolah rohani paling efektif untuk meredam emosi dan amarah hewani. Puasa mengajarkan kita untuk senantiasa menjaga lisan dan tangan dari tindakan amoral. Artinya, puasa akan bermakna jika pesan tentang perdamian mampu dijadikan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
            Puasa akan bermakna jika kecenderungan untuk menebarkan kebencian dapat ditinggalkan dan beralih untuk membangun pentingnya hidup berdampingan secara damai. Imam Al Ghazali menyatakan, poros utama dari tingkah laku manusia adalah hati. Karena itu, mengisi hati dengan pesan perdamaian akan menjadi modal baik kebangsaan kita (Misrawi, 2010: 219).
            Oleh karena itu, spirit kasih sayang dan welas asih yang telah dilestarikan pada bulan Ramadhan, haruslah kita jaga di bulan-bulan lain. Karena substansi dari ibadah puasa ialah bisa menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung didalamnya, kemudian mengaktualkan dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai kita menjadi religius hanya pada saat-saat tertentu. Maka ada suatu ungkapan: “Kun Rabbaniyan Wa Laa Takun Romdoniyan.” Artinya, jadilah ahli ibadah (diseluruh waktu dan tempat). Dan janganlah menjadi ahli ibadah hanya disaat bulan Ramadhan.” Taqabbalallahu Minna Wa Minkum, Shiyamana Wa Shiyamukum. Wallahu A’lam Bisshawab.

Tulisan ini pernah dimuat di koran SateltPost. Untuk mengakses koran tersebut, dapat klik link berikut: 
http://satelitnews.co/berita-meningkatkan-ibadah-di-bulan-syawal.html

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda