Sabtu, 25 Juli 2015

Meredam Sensitivitas Agama di Tengah Kemajemukan Bangsa Indonesia



                   
            Indonesia merupakan negara plural. Tercatat, ada enam agama yang diakomodir, yaitu: Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Konhucu. Apabila pluralitas ini tidak dijaga dengan baik, maka akan menimbulkan rasa sensitif yang menyebabkan konflik destruktif. Dimana konflik destruktif bisa memecah belah persatuan agama-agama, dan ada kemungkinan pula memecah belah substansi Bhineka Tunggal Ika.
            Berdasar fakta, adanya pembunuhan pendeta akibat rasa sensitif yang berlebihan, penyerangan terhadap warga penganut faham Ahmadiyah, penyerangan terhadap warga penganut Syiah, dan yang terakhir masih hangat-hangatnya yaitu kasus pembakaran dan penyerangan jamaah shalat Ied di Tolikara. Itu disebabkan rasa sensitif negatif yang berelebihan terhadap umat lain yang berbeda agama.
            Menurut Budiono, sensitif ialah peka. Ada pun sensitivitas ialah perasaan yang peka atau yang lekas timbul.[1] Oleh karena itu, rasa sensitif bisa muncul dalam dua bentuk. Sensitif positif dan sensitif negatif. Senstif positif tidak menimbulkan konflik destruktif, sedangkan senstif negatif bisa menyebabkan konflik destruktif. Ada pun contoh dari sensitif positif dalam kehidupan sehari-hari yaitu empati dan simpati pada orang yang baru tertimpa musibah. Sedangkan contoh senstif negatif yaitu penyerangan atas nama agama kepada pemeluk agama lain.
            Oleh karena itu umat agama apa pun, perlu kembali merenungkan kembali esensi agama-agama yang mereka anut. Agama apa pun, baik itu Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Konghucu tidak pernah mengajarkan kepada pemeluknya untuk membunuh umat lain yang berbeda agama tanpa ada alasan yang jelas. Setiap agama tentunya punya nilai-nilai substantif berupa kasih sayang, welas asih, toleransi (tasamuh), dan tolong menolong. Nilai-nilai itulah yang harusnya diambil ketika seseorang hidup di tengah masyarakat yang plural dan majemuk.
            Menurut beberapa kajian, rasa senstif (sensitivitas) beragama mucul dikarenakan kembali pada dogma dan menafsirkannya dengan oposisi biner, hitam-putih, salah-benar. Mereka yang termasuk hitam adalah mereka yang salah dan disebutnya sebagai setan jahat, sementara yang putih adalah mereka yang benar termasuk anak Tuhan.[2] Adanya teror, kekerasan, dan perang atas nama ideologi, nasionalisme, agama, etnis, kebudayaan, ilmu pengetahuan & teknologi (iptek) dilakukan dengan tujuan menghapus mereka yang berbeda paham dan pandangan.[3]
            Dalam peradaban modern di zaman masyarakat beradab (civil society), peperangan ternyata terus berlangsung berdasar tafsirnya sendiri. Hak Asasi Manusia (HAM) ditafsiri secara sepihak untuk melakukan tekanan terhadap pihak lain yang lemah dan gagal merebut wacana tentang identitas yang sah. Dunia beradab belum bebas dari logika konflik dan dengan akibat buruk penindasan bangsa atau komunitas lain. Tanpa konflik, ternyata dunia beradab seperti berhenti bergerak, dan hidup seperti bergerak tanpa ruh.[4]
Idealnya Civil Society dalam bahasa Inggris atau al-mujtama’ al-madani  adalah masyarakat bermoral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan individu dan stabilitas masyarakat, di mana masyarakat memiliki daya dorong usaha dan inisiatif individual. Sistem sosial yang cakap dan seksama serta pelaksanaan pemerintahan mengikuti Undang-Undang dan bukan nafsu atau keinginan individu menjadikan keterdugaan atau predictabilty serta ketulusan atau transparency sebagai satu sistemnya.[5]
Rasa sensitif yang menyebabkan konflik dan kekerasan atas nama agama atau Tuhan lebih disebabkan oleh karena pemeluk semua agama tidak konsisten dengan keyakinannya sendiri. Hubungan antar pemeluk berbeda agama atau berbeda paham keagamaan, akan bisa dikembangkan lebih manusiawi, dialogis dan konstruktif jika bisa dibedakan dengan jelas yang sakral dari yang profan dan sekuler, pemeluk semua agama bisa bekerjasama saling menguntungkan, baik bagi kepentingan setiap agama itu sendiri atau bagi kepentingan manusia dalam arti luas.[6]
Sayangnya, pemeluk setiap agama hampir selalu berbeda dalam menempatkan dan merumuskan apa saja yang disebut sekuler dan sakral. Keduanya bahkan sering saling mengambil peran parstisipatif, selain bisa diubah setiap saat oleh pemeluk semua agama. Batas antara yang sakral dan yang profan tidak pernah jelas dan hampir mustahil dibuat. Dengan mudah kita mengubah tindakan politik atau ekonomi sebagai tindakan atas nama Tuhan. Atas nama-Nya pula orang-orang yang merasa saleh terpanggil oleh suatu kewajiban menghancurkan orang lain berbeda agama.[7]
Yang perlu diingat, bahwasannya setiap komunitas mempunyai keyakinan tersendiri dalam beberapa hal tertentu. Hendaknya perbedaan tersebut tidak dapat menjadi alasan untuk menebarkan kekerasan di antara satu kelompok terhadap kelompok lain. Intinya, keyakinan kelompok tertentu harus dihargai dan dihormati.[8]
Untuk itu, kalangan agamawan mempunyai tanggung jawab moral yang tidak bisa diabaikan untuk menghilangkan rasa sensitif negatif yang berlebihan. Sebab, pada hakikatnya setiap agama membawa misi perdamaian.[9] Agama apa pun, baik itu Islam, Katolik, Hidu, Budha, Konghucu, dll.



[1] Budiono, Kamus Ilmiah Populer Internasional, Cet: - (Surabaya: Alumni, 2005)., hlm. 591.
[2] A.M Hendropriyono, Terorisme: Fundamentalis, Kristen, Yahudi, Islam, Cet. II, (Jakarta: Kompas Gramedia, 2009)., hlm. 160
[3] Abdul Munir Mulkhan, “Tafsir Identitas dan Kekerasan Keagamaan”, dalam Jurnal UNISIA, No. 45, Februari 2002 (Yogyakarta: UII, 2002)., hlm. 139.
[4] Ibid.
[5]Hendro Prasetyo, dkk, Islam dan Civil Society: Pandangan Muslim Indonesia, Cet. I, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002)., hlm. 158
[6] Abdul Munir Mulkhan, “Dialektika Agama dan Kebudayaan Bagi Pembebasan”, dalam Dinamika Kebudayaan dan Problem Kebangsaan: Kado 60 Tahun Musa Asy’arie (Yogyakarta: LeSFI, 2011)., hlm. 14
[7] Ibid.
[8] Zuhairi Misrawi, Pandangan Muslim Moderat: Toleransi, Terorisme, Dan Oase Perdamaian, Cet.-, (Jakarta: Kompas Gramedia, 2010)., hlm. 140
[9] Ibid., hlm. 203

Baca pula: http://www.kampunghalaman.org/berita?id=899

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda