Menyelamatkan Agama dari Politik: Membaca Ulang Warisan Pemikiran Cak Nur
A. Sekulerisasi
Nurcholish Madjid, atau
yang sering dipanggil Cak Nur mengungkapkan gagasan sekulerisasi dalam rangka
membedakan sakral dan profan. Mengapa demikian? Seringkali umat Islam mencampur
adukkan keduanya, sehingga mereka sibuk melangitkan sesuatu yang bersifat
duniawi dan menduniawikan langit.
Umpamanya masalah
politik, dengan gagasan sekulerisme Cak Nur memberikan slogan: “Islam Yes,
Partai islam No.” Adanya ungkapan tersebut, tentu hal bukanlah tanpa pertimbangan
dan konteks. Jika melihat hanya dari ungkapan an sich, maka hal itu akan
menimbulkan polemik jangka panjang.
Gagasan sekulerisme
yang diusung Cak Nur dilontarkan guna menyelamatkan agama dari kepentingan ideologi
dan politik. Semasa beliau hidup, kondisi politik sedang dihiasi dengan
persaingan antara Masyumi dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Masyumi sebagai
partai yang mewakili agama Islam sering mengkampanyekan konsep “Islam” politik
sesuai kepentingan mereka guna menarik suara.
Dalam buku yang
berjudul “Api Islam Nurcholish Madjid, Jalan Hidup Seorang Visioner”
tulisan Ahmad Gaus AF. Masyumi sering melontarkan ungkapan kurang lebih sebagai
berikut:
“Anda Islam? Jika
ya, pilihlah partai Islam. Jika tidak memilihnya, berarti kafir.” Tentu dari kalimat ini mencampur
adukkan sakral dan profan. Kafir/muslim merupakan pembahasan agama (sakral)
pilihan partai politik (profan). Seseorang bisa tetap beragama meski mempunyai
pilihan politik berbeda, tergantung tendensi dan kepentingannya. Misal saat ini
ada seorang muslim, saat pemilu memilih
partai berhaluan nasionalis, tidak lantas orang itu murtad atau keluar dari
agama Islam.
Hal semacam inilah yang
mungkin sulit dipahami dari arah pemikiran Cak Nur. Para pengkritiknya mengira
bahwa beliau mendukung gagasan sekulerisme ala Mustofa Kemal Ataturk yang
diterapkan di Turki. Dampak darinya mengganti lafaz azan semula berbahasa Arab
diganti dengan Bahasa Turki, atau sekulerisme ala Kristen, memisahkan antara
kehidupan gereja dan luar gereja, sebagaimana yang ditulis Prof. Dr. H. Mohamad
Rasjidi (H.M Rasjidi) dalam buku “Koreksi Terhadap Drs. Nurcholis Madjid
tentang Sekulerisme.”
Menurut catatan penulis,
menggunakan kata sekulerisasi dengan konsep yang berbeda tentu akan menimbulkan
konfrontasi. Sudah masyhur menurut para sarjana teologi istilah sekulerisme
merupakan pemisahan antara agama dari urusan negara. Mengacu pada sekulerisme
di Turki, maka para pengkritik seperti H.M Rasjidi merasa curiga dengan gagasan
Cak Nur. Alangkah baiknya murid-murid Cak Nur bisa menterjemahkan gagasannya,
lalu mengganti kata sekulerisasi dengan desakralisasi politik. Ketika itu
dilakukan, maka klaim-klaim negatif bahwa Cak Nur sesat, dan halal tidak bisa
dituduhkan.
B. Titik Temu Agama
Manusia diciptakan oleh
Allah SWT sebagai insan yang pastinya berbeda dalam bentuk fisik dan non fisik.
Fisik meliputi gender, wajah, badan, rambut, dll. Bahkan menurut penelitian
bahwa orang yang kembar sekali pun, mau tidak mau pasti berbeda, meski judulnya
kembar siam. Non fisik meliputi ras, suku, agama, dll. Kesemuanya berbeda
mengikuti sunnatullah, tujuannya untuk menjaga kelestarian semesta itu sendiri.
Jika semua yang ada di
alam semesta sama, pastilah aneh. Kita ibaratkan jari-jari tangan/kaki manusia
berbeda; ada jari kelingking, jari manis, jari tengah, jari telunjuk, dan
jempol, di mana semua berbeda. Bisa dibayangkan jika jari tangan/kaki semuanya
jempol, pasti aneh dan akan menyalahi sunnatullah, bahkan akan dilabeli cacat.
Keberagaman, dalam
masalah apa pun, khususnya agama bukan ajang untuk mencari pertentangan,
melainkan ajang untuk mendapatkan titik temu. Cak Nur sebagai pembaharu
pemikiran Islam mempunyai konsep untuk mempertemukan perbedaan dengan
mengenalkan dimensi eksoteris dan esoteris.
Eksoteris merupakan
dimensi luar manusia, dalam beragama fokus pada ritual, luturgi, pengalamaan
spiritual, ekspresi keagamaan. Pada wilayah ini manusia, dipenuhi dengan
perbedaan. Tidak harus yang berbeda agama, sesama muslim juga ada perbedaan
dalam masalah ritual, Seperti; saat salat subuh ada yang qunut ada juga tidak,
niat ada yang mengucap atau tidak. Pada intinya semua berbeda dan yang
dibutuhkan di sini adalah sikap untuk bertoleransi.
Sedang dimensi esoteris
mencakup value atau nilai yang diusung setiap agama, seperti konsep keadilan,
persamaan, perdamaian, dll. Semua manusia, bahkan agama akan sama dalam
memahami konsep tersebut. Maka menurut Cak Nur, di sinilah agama-agama
mempunyai titik temu. Bersatu dalam dimensi esoteris, lalu saling menghormati
pada hal-hal bersifat eksoteris.
Inilah titik temu
kalimatun sawa yang digagas oleh Cak Nur, jadi bukan menyamakan semua agama dan
terjebak pada sinkretisme yang menduakan Allah sebagai Rabb pecipta semesta
sebagaimana pernah dilontarkan para pengkritiknya.
C. Manusia Sebagai Khalifah
"Ingatlah ketika
Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan
seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau
hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya
dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau
dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui
apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al
Baqarah: 30).
Menurut Cak Nur,
manusia menjadi khalifah dikarenakan kecerdasan akal, sehingga ia menjadi wakil
Allah dalam melaksanakan tugas-tugas di bumi. Maka, lafaz
bismillahirrahmanirrahim, artinya “dengan menyebut nama Allah Yang Maha
Pengasih Lagi Maha Penyayang” merupakan ikrar seorang manusia mewakili Allah
untuk mengelola bumi.
Penafsiran ini dibantah
oleh H.M Rasjidi beliau menafsirkan Q.S Al Baqarah: 30 bahwa manusia bukan
wakil dari Allah karena memiliki akal untuk berpikir dalam artian mewakili.
Seperti halnya wakil ketua mewakili ketua dalam sebuah kegiatan pertemua.
Khalifah, menurut H.M Rasjidi adalah hamba yang diciptakan Allah, kemudian
mengelola dan mengurus bumi tapi bukan sebagai wakil, sehingga kata
bismillahirahmanirrahim bukan lafaz seorang hamba mewakili Tuhannya, melainkan
sikap menggantungkan hidup.
Pandangan penulis,
bahwa setiap mufassir seperti Ibnu Katsir, Jalaludin Mahalli-Jalaludin Suyuti,
Al Qurtubi dalam memahami beberapa ayat pastilah berbeda. Begitu pula pandangan
Cak Nur dan H.M Rasjidi mengenai Q.S Al Baqarah: 30 juga berbeda. Ali As Shobuni
dalam Tafsir Ayat Ahkam menjelaskan bahwa makna khalifah ada yang berpendapat
As Sulton, Imam dan Amirul Mukminin.
As Sulton: Pemimpin
dalam masalah administrasi, hukum, dan militer.
Imam: Pemimpin dalam
solat.
Amirul Mukminin:
Pemimpin agama dan politik.
Adanya perdebatan
tentang khalifah menurut Ali As Shobuni mengenai khalifah bukan berarti satu
penafsiran, menafikan penafsiran lain. Adakalanya khalifah menunjuk pada As
Sulton semata, tetapi masih dimungkinkan pula mencakup semuanya sebagaiman
tertera di atas. Adapun penafsiran Cak Nur dan H.M Rasjidi merupakan sebuah
perbedaan tafsir bukan mengenai pokok ajaran Islam, sehingga masing-masing sah
menafsirkan sendiri makna khalifah.
D. Inferiority Complex
Cak Nur menyatakan
bahwa banyak masyarakat Islam yang miskin dan mengalami keterbelakangan. Hal
ini dikarenakan masyarakat Islam gemar melakukan apologi pembelaan berlebihan
terhadap segala sesuatu, baik agama atau tokoh-tokoh tertentu. Cak Nur menganggap,
seolah dengan adanya apologi tidak menghargai kritik.
Menanggapi hal ini, H.
M Rasjidi menganggap bahwa Cak Nur terlalu mengagungkan peradaban Barat,
khususnya Eropa dengan segala kemajuannya. Padahal Eropa sendiri pernah
mengalami masa kegelapan, perlahan bangkit karena belajar dari peradaban Islam.
Menurut H.M Rasjidi, Cak
Nur terjangkit inferiority complex, rasa rendah diri terhadap peradaban barat,
sehingga yang dicapai bukan rendah hati, tetapi minder. Akibatnya tidak percaya
diri dengan segala sesuatu yang berbau Islam, lalu mengambil secara
mentah-mentah modernisasi barat tanpa mempertimbangkan konteks.
Hemat penulis, yang
dilakukan Cak Nur bukan rasa minder, tetapi bersikap objektif. Hal senada juga
tertuang dalam kaidah usul fiqih:
"Al-muhafadhotu
'ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah"
“Memelihara tradisi
lama yang baik dan mengambil kebiasaan baru yang lebih baik.”
Meski terkesan liberal,
nyatanya Cak Nur pernah mengkritik konsep ketuhanan dengan menyatakan bahwa
Yesus adalah manusia biasa dan mempunyai keturunan. Pernyataan demikian menuai
kritik dari kalangan katolik seperti Frans Magniz Suseno.




